“Jangan pernah menganggap satu manusia-yang kauanggap gak penting- yang kita temui dalam hidup, takkan pernah kita jumpai lagi. Setiap mereka adalah jalan keluar. Satu demi satu dari mereka adalah jembatan-jembatan kita dalam mengarungi perjalanan. Mereka adalah malaikat-malaikat Tuhan yang Dia kirim untuk kita. Tak peduli dari mana, apa warna kulit, atau agama mereka. Yang kita kenal jauh sebelum kita sadar bahwa kita mengenalnya.”
— Hanum Rais, Prolog - Berjalan di Atas Cahaya (via ninotannio)
Suatu hari, seperti biasa saya mendengarkannya bercerita. Kali ini temanya tentang rumah ideal. Berhubung kami sedang mencari-cari rumah, istri saya pun tanya kesana kemari tentang harga-harga rumah serta minta nasihat perihal rumah yang baik. Pagi itu, beliau konsultasi dengan Pak Jaya, salah seorang ustadz di NF.
Dia :Ustadz, saya lagi nyari-nyari rumah nih..Kira-kira rumah yang kayak gimana ya yang ideal menurut Rasulullah?
Pak Jaya :Hmm..yang saya tau, rumah ideal menurut Rasulullah itu sederhana, syaratnya cuma dua.
Dia :Apa Pak?
Pak Jaya :Satu, rumahnya diusahakan punya halaman atau ruang keluarga yang luas. Ini penting untuk tumbuh kembang anak kelak..
Dia :Hoo.. *bengong* Begitu ya Pak..terus?
Pak Jaya :Dua, rumahnya itu minimal punya enam kamar.
Dia :Haa?? *kaget* Beneran Pak? Kenapa harus sebanyak itu Pak?
Pak Jaya :Iya..Satu untuk kamar suami istri jelas. Yang kedua untuk kamar orang tua kita, ini penting agar orang tua kita tidak sungkan untuk berkunjung ke rumah kita, jadi harus disiapkan kamar khusus untuk mereka. Tiga untuk kamar anak laki-laki dan empat untuk kamar anak perempuan, ini pun untuk asumsi satu kamar untuk semua anak laki-laki dan sebaliknya. Lima untuk kamar tamu, karena Rasulullah menyarankan kita agar menjamu dan memuliakan tamu dengan baik. Serta yang keenam untuk kamar khodimat atau pembantu..
Logis dan bener juga ya kalau dipikir-pikir.. *Mari nabung lagi dan nabung lagi*